Tiga Komunitas di Grobogan Sukses Gelar Nobar Pesta Babi, Walau Dipantau Intel
![]() |
| Nobar Pesta Babi di markas PMII Grobogan. |
Grobogan - Tiga komunitas di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah sukses menggelar nonton bareng atau nobar film dokumenter Pesta Babi.
Tiga komunitas itu menggelar nobar film yang disutradarai Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale di waktu yang berbeda. Namun seluruhnya digelar pada pekan ini dan dipantau intel.
Pertama, komunitas yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Sipil Grobogan menggelar nobar Pesta Babi pada Selasa (19/5/2026) malam.
Lokasinya yakni di sebuah cucian kendaraan di Lingkungan Sambak, Kelurahan Danyang, Kecamatan Purwodadi.
Acara berlangsung dengan lancar kendati sempat ada imbauan dari keamanan RT setempat agar film tidak diputar.
Selanjutnya, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Grobogan (STAIG) menggelar nobar pada Kamis (21/5/2026) malam di halaman kampus setempat yang juga masih di kawasan Kelurahan Danyang, Purwodadi
Nobar tetap digelar puluhan mahasiswa dan warga kendati pada hari yang sama muncul surat dari kampus tidak diberikannya izin lokasi.
Di lokasi acara juga bahkan digelar lapak buku berbagai judul dan tema.
Selanjutnya, nobar ketiga digelar oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Grobogan pada Jumat (22/5/2026) malam di sekretariatnya di kawasan Kelurahan Kuripan, Purwodadi.
Tri Wahyu Nugroho dari Aliansi Masyarakat Sipil Grobogan menyatakan film yang berfokus pada kritik mengenai food estate di Papua itu penting untuk diketahui masyarakat luas.
Menurutnya, apa yang terjadi di ujung timur Indonesia itu juga bisa ditarik dengan fenomena yang terjadi di Grobogan.
Sebagai contoh, dugaan banyak galian C ilegal di Grobogan yang merusak lingkungan, hingga penggundulan hutan yang menjadi salah satu biang kerok banjir.
Lebih jauh, ia juga mengkritik sistem pendidikan. Berikut ini kutipannya:
"Pendidikan hari ini telah kehilangan fungsi profetisnya. Ia tidak lagi melahirkan para inovator yang mampu menyembuhkan tanah Grobogan yang retak.
Di bawah kendali kapitalisme struktural, lembaga pendidikan menjelma menjadi makelar kemiskinan yang legal.
Anak-anak petani, yang tak lagi memiliki sejengkal sawah pun untuk diwarisi, digiring masuk ke sekolah-sekolah vokasi hanya untuk distandarisasi menjadi sekrup-sekrup kecil dalam mesin industri raksasa.
Kita tidak sedang mendidik manusia; kita sedang mengepakan komoditas SDM untuk dikirim ke ruang-ruang kerja shift yang dingin, mengasingkan mereka dari tanah kelahiran mereka sendiri."
"Dalam ruang-ruang birokrasi, sistem ini dianggap bekerja dengan sempurna. Sekolah mencetak tenaga kerja, pabrik menyerapnya, dan angka statistik pengangguran daerah pun menurun.
Semua lembaga bergerak harmonis menjaga stabilitas ekonomi Grobogan hari ini.
Namun, sejarah struktural menolak menutup mata pada harmoni yang semu ini.
Keseimbangan sistem ini dibayar mahal oleh tumbalnya: hilangnya kedaulatan agraria para pemuda. Sistem ini fungsional bagi kelangsungan kapital, namun disfungsional bagi kemerdekaan manusia.
Ketika fungsi sekolah dikerdilkan menjadi sekadar penyambung rantai pasok industri, saat itulah kita sedang menyaksikan matinya laboratorium masa depan Grobogan.

1 komentar