Kemandirian Rakyat di Haul Gus Dur 16
Acara tanggal 29 Januari, siang hari di lokasi Candi Joglosemar, Purwodadi.
Haul Gusdur ke 16 kali ini mengangkat tema Dari Rakyat, oleh rakyat untuk rakyat. Menampilkan pemamar, Rita Dwi Lestari Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI).
Ia menjelaskan bahwa hari ini kita dipimpin oleh elit ( yg notabene juga Rakyat) yang tidak peka dengan masalah yg dihadapi masyarakat. Karena elit yg memimpin ini lahir dengan banyak kelebihan serta kemudahan (previllage) sejak Lahir. Mereka tidak pernah merasakan jadi orang kecil dan berkesusahan sejak kecil.
Berbeda dengan Gus Dur yg memimpin dengan memanusiakan Masyarakat Papua, dan Tionghoa.
Mencoba menghadirkan keadilan yang dianggap kecil namun mewah bagi golongan ini.
Ketika pemimpin dan elit ini dianggap tidak mampu bekerja. Maka seperti yg kita lihat sekarang. Muncullah gerakan SipiL. Rakyat bantu rakyat.
Kalo di Grobogan ya tentang rakyat yang sendiri turun tangan mengolah sampah, memilah, serta berkesadaran untuk mengurangi penggunaan sampah plastik. Seperti yg dilakukan Teman teman GKI.
Pemapar kedua, Kyai Zainal Arifin menyatakan bahwa manusia memang sudah diprediksi akan menjadi makhluk hidup yg senang merusak. Seperti perkataan Malaikat. Ya karena manusia dibekali akal dan perasaan. Makanya manusia yang berkesadaranlah yang derajatnya bisa melebihi malaikat. Karena manusia yang baik, ia memilih untuk berbuat baik meskipun ada kesempatan untuk berperilaku jahat.
Dalam diskusi, Wahyu Dwi Pranata mengungkapkan bahwa nilai keteladanan Gus Dur sampai saat ini masih sangat layak untuk dikenang dan diteladani anak muda Grobogan.
Gus Dur adalah seorang aktivis sejak muda. Pembaca Buku yang rajin. Serta penulis opini yang produktif.
Gus Dur tidak takut kepemimpinan orde baru.
Ketika menjadi Presiden, Gus Dur tetap menjadi rakyat biasa. Ia tidak takut untuk dibenci orang lain dengan kebijakan non Populis. Contohnya, Gus Dur tidak menyediakan makan siang untuk wartawan. Bahkan membiarkan wartawan istana duduk glesotan di lantai tanpa ruang khusus di area gedung kepresidenan.
Gus Dur membubarkan DPR. Mengatakan mereka seperti taman kanak Kanak. Membubarkan kementrian Sosial.
Hingga akhirnya Gusdur diturunkan sebelum jabatannya berakhir.
Posting Komentar